Dex Language-Discovery Camera Review: Kamera AI Rp 3,3 Juta untuk Anak

Penulis: Hendra Mukhtar  •  Sabtu, 12 September 2026 | 16:31:31 WIB
Kamera AI Dex dirancang untuk membantu anak usia 3–8 tahun belajar bahasa dengan mengenali objek di sekitarnya.

SUMATERA SELATAN — Dex bukan kamera biasa. Perangkat ini dirancang untuk anak usia 3 sampai 8 tahun yang sedang belajar bahasa, dengan cara kerja sederhana: arahkan lensa ke objek, tekan tombol jepret, lalu Dex akan mengenali benda tersebut dan mengucapkan namanya dalam bahasa target. Anak diminta mengulang, dan AI di dalamnya mendengarkan apakah pelafalan sudah benar.

Konsep ini menjawab masalah klasik gadget edukasi anak. Sebagian besar aplikasi belajar bahasa justru menuntut anak duduk diam di depan layar. Dex melakukan kebalikannya — teknologi dipakai sebagai alasan agar anak keluar rumah dan mengamati lingkungan sekitar.

Spesifikasi dan Cara Kerja

  • Kategori: kamera pintar berbasis AI untuk anak usia 3–8 tahun
  • Bahasa didukung: 16 bahasa, lebih dari 30 dialek
  • Fitur utama: pengenalan objek otomatis, pelafalan suara, mini-lesson kontekstual
  • Kontrol orang tua: melalui aplikasi pendamping (companion app)
  • Bodi: kokoh, ukuran pas untuk tangan anak, dilengkapi tali leher
  • Baterai: bertahan seharian pemakaian normal (jelajah luar ruang + belanja)
  • Harga: USD 199 (sekitar Rp 3,3 juta), turun dari USD 249

Fitur Unggulan yang Bikin Anak Betah

Ada tiga hal yang membedakan Dex dari mainan edukasi lain. Pertama, sistem badge sticker — setiap objek yang berhasil difoto disimpan sebagai stiker yang terisi warna seiring anak berlatih melafalkan kata. Anak bisa kembali ke penemuan lama, bukan sekadar foto lalu hilang.

Kedua, mode permainan dan aktivitas tambahan di luar mode kamera utama. Ini penting karena rasa bosan anak biasanya muncul setelah fase "foto semua benda di rumah" selesai. Ketiga, dukungan multi-bahasa yang membuat kakak beradik ikut main. Anak usia 9 dan 12 tahun pun masih tertarik setelah tahu bahasa bisa diganti-ganti.

Pengalaman Pemakaian di Lapangan

Dari pengujian di halaman rumah, pantai, sampai supermarket, Dex terbukti membuat anak sibuk tanpa harus diarahkan orang dewasa. Anak memilih sendiri objek yang menarik — katak, ranting, batu, serangga — lalu mendengar Dex menyebut nama benda itu. Tidak ada jeda canggung menunggu jawaban "benar" seperti saat pakai flashcard.

Di supermarket, Dex jadi alternatif dari kebiasaan menyerahkan ponsel ke anak. Alih-alih menonton YouTube, anak sibuk memotret produk, sereal, dan susu. Bukan transformasi ajaib, tapi setidaknya ada aktivitas bertujuan yang tidak membuat anak larut di layar.

Catatan dan Keterbatasan

Klaim "bebas layar" tidak sepenuhnya tepat. Dex punya layar di bodinya. Bedanya, layar ini mendorong anak untuk hadir dan aktif — mencari objek, memotret, mendengar, mengulang — bukan menarik perhatian ke dalam seperti tablet.

Akurasi AI juga tidak sempurna. Kesalahan pengenalan bisa terjadi, terutama kalau foto buram karena anak bergerak terlalu cepat. Ada juga biaya langganan berkelanjutan untuk fitur dan aktivitas tertentu, meski kamera tetap berfungsi penuh tanpa langganan. Sebagai gadget terhubung, Dex tetap perlu diisi daya, dikonfigurasi, dan sesekali di-troubleshoot.

Harga dan Ketersediaan

Dex Language-Discovery Camera dijual USD 199 (sekitar Rp 3,3 juta) setelah diskon dari harga normal USD 249 (sekitar Rp 4,1 juta). Pembelian mencakup perangkat kamera, tali leher, dan akses ke aplikasi pendamping. Fitur lanjutan bergantung pada paket langganan yang dipilih, namun fungsi inti kamera tetap bisa dipakai tanpa berlangganan.

Untuk Siapa Perangkat Ini

Dex paling masuk akal untuk orang tua dengan anak usia 3–8 tahun yang aktif bergerak dan sulit fokus pada aplikasi belajar konvensional. Anak dengan keterlambatan bicara atau neurodivergen yang butuh pendekatan belajar berbeda juga bisa mendapat manfaat. Untuk anak yang sudah duduk tenang belajar dari buku atau tablet, daya tariknya mungkin tidak sebesar itu.

Reporter: Hendra Mukhtar
Sumber: tomsguide.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top