Pencarian

Ketua PWNU Sumsel KH M Hendra Zainuddin Al-Qodiri Bacakan Sajak “Sumatera Selatan yang Keramat” di Acara Sumsel Bermunajat HUT ke-80

Selasa, 12 Mei 2026 • 18:11:01 WIB
Ketua PWNU Sumsel KH M Hendra Zainuddin Al-Qodiri Bacakan Sajak “Sumatera Selatan yang Keramat” di Acara Sumsel Bermunajat HUT ke-80
KH M Hendra Zainuddin Al-Qodiri membacakan sajak "Sumatera Selatan yang Keramat" dalam acara Sumsel Bermunajat.

PALEMBANG — Acara Sumsel Bermunajat yang digelar PWNU Sumsel di Pondok Pesantren Aulia Cendekia berlangsung khidmat pada peringatan Hari Jadi ke-80 Provinsi Sumatera Selatan. Kegiatan itu juga dirangkaikan dengan doa bersama untuk Proyek Strategis Nasional Pelabuhan Tanjung Carat.

Sajak “Sumatera Selatan yang Keramat” menjadi momen paling menyentuh dalam rangkaian acara. Dengan intonasi tennamun penuh penekanan makna, KH M Hendra Zainuddin Al-Qodiri menggambarkan Sumatera Selatan bukan hanya sebagai wilayah yang kaya sumber daya alam, tetapi juga tanah yang sarat sejarah, keberkahan, dan jejak spiritual para ulama serta leluhur.

Isi Sajak: Tanah Sriwijaya yang Kaya Ruh dan Keberkahan

Dalam sajaknya, Ketua PWNU Sumsel itu mengisahkan perjalanan spiritual menyusuri desa-desa, rumah panggung, hingga makam-makam para wali. “Dan semakin jauh langkah ini pergi, semakin aku percaya Sumatera Selatan bukanlah tanah biasa,” demikian penggalan sajak yang dibacakan.

KH M Hendra Zainuddin Al-Qodiri juga menyebut tanah ini sebagai pusat peradaban Sriwijaya yang tidak hanya besar karena kekuasaan, tetapi karena leluhurnya mengajarkan pemimpin dekat dengan rakyat. “Maka jangan heran jika dari tanah ini lahir tokoh-tokoh besar, ulama-ulama yang meneduhkan, pemimpin-pemimpin yang merakyat,” tulisnya dalam sajak yang digubah ba’da Subuh di Pesantren Aulia Cendekia.

Doa Bersama untuk Proyek Strategis Nasional

Acara Sumsel Bermunajat dihadiri gubernur Sumsel, tokoh agama, santri, unsur pemerintah daerah, serta masyarakat dari berbagai daerah. Doa bersama untuk Proyek Strategis Nasional Pelabuhan Tanjung Carat turut mengiringi peringatan hari jadi ke-80 tersebut.

Sajak ditutup dengan harapan agar Sumatera Selatan tetap menjadi tanah yang diberkahi, melahirkan pemimpin bijak, dan masyarakat yang menjaga wibawa leluhurnya. “Karena kami percaya selama doa para leluhur masih hidup di bumi ini, Sumatera Selatan akan selalu diberkahi,” demikian bunyi akhir sajak yang dibacakan KH M Hendra Zainuddin Al-Qodiri.

Bagikan
Sumber: sumselindependen.com

This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.

Berita Lainnya

Indeks

Pilihan

Indeks

Berita Terkini

Indeks