PALEMBANG — Pemerintah Provinsi Sumatera Selatan mencatat produksi kumulatif jagung hingga Mei 2026 mencapai sekitar 124 ribu ton jagung pipilan kering dengan kadar air 14 persen. Angka ini naik signifikan dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya yang hanya 117.655 ton.
Kenaikan produksi ini tak lepas dari program bantuan benih jagung hibrida yang telah berjalan beberapa tahun terakhir. Wakil Gubernur Sumsel Cik Ujang menyatakan pihaknya akan melanjutkan program tersebut untuk menjaga momentum peningkatan hasil panen.
Produktivitas Capai 66,06 Kuintal per Hektare
Dinas Pertanian Sumsel mencatat luas lahan jagung yang sudah dipanen mencapai 18.906 hektare. Dari lahan tersebut, produktivitas rata-rata petani mencapai 66,06 kuintal per hektare.
Sementara itu, untuk jagung pipilan kering dengan kadar air 28 persen, produksinya mencapai 168.956 ton. Angka ini menunjukkan potensi besar komoditas jagung di Sumsel sebagai penopang ketahanan pangan nasional.
Bantuan Benih Hibrida Jadi Kunci Lonjakan Produksi
Menurut Wagub Cik Ujang, bantuan benih jagung hibrida diberikan untuk kebun seluas 20 ribu hektare lebih. Program ini menyasar petani dan kelompok tani di berbagai kabupaten/kota di Sumsel.
"Kami akan terus membantu dan bekerja sama dengan petani, kelompok tani, serta pemerintah daerah untuk meningkatkan produksi jagung dan komoditas lainnya," ujar Cik Ujang di Palembang, Selasa.
GSMP: Gerakan Menuju Swasembada Pangan
Program bantuan ini merupakan bagian dari Gerakan Sumsel Mandiri Pangan (GSMP). Pemerintah provinsi menargetkan Sumsel tidak hanya swasembada pangan, tetapi juga mampu memasok kebutuhan daerah lain.
Dengan tren produksi yang terus meningkat, Pemprov Sumsel optimistis target tersebut bisa tercapai. Dukungan berupa benih unggul dan pendampingan teknis akan terus diperluas ke sentra-sentra jagung baru di daerah pedalaman.