PALEMBANG — Pelantikan kepengurusan AMKI Sumsel digelar di Aula Lantai 3 Kantor DPRD Provinsi Sumatera Selatan, Jumat (22/5/2026). Prosesi dipimpin langsung Ketua Umum AMKI Pusat, Ir. Tundra Meliala, M.M., GRCE., CPCC. Turut hadir Anggota DPR RI Komisi I Yuda Novanza Utama yang juga menjabat Ketua Dewan Pengawas AMKI Sumsel, serta Staf Ahli Bidang Kemasyarakatan dan SDM Setda Sumsel, Kurniawan Abadi.
Empat Pilar Kepengurusan Baru AMKI Sumsel
Dalam struktur yang dilantik, Dede Umar duduk sebagai ketua. Ia didampingi Novas Riady sebagai sekretaris dan Rian Gumay sebagai bendahara. Mereka akan mengemban amanah hingga 2030.
Ketua Umum AMKI Pusat, Tundra Meliala, menekankan bahwa organisasi ini hadir di tengah derasnya arus digitalisasi. Perusahaan media, kata dia, dituntut beradaptasi tanpa meninggalkan prinsip jurnalistik profesional dan berintegritas.
“AMKI hadir untuk menjadi wadah bersama bagi insan media agar dapat tumbuh, berkembang, dan tetap profesional di tengah derasnya arus digitalisasi informasi,” ujar Tundra dalam sambutannya.
Media Bukan Sekadar Penyampai Informasi
Tundra menegaskan pers memiliki peran strategis menjaga demokrasi dan membangun edukasi publik. Media juga menjadi jembatan informasi antara masyarakat dan pemerintah. Sinergi antarmedia, menurutnya, penting untuk menjaga kualitas pemberitaan yang sehat dan berimbang.
“Pers harus tetap independen, kritis, namun juga mampu menjadi mitra strategis dalam pembangunan daerah dan nasional,” tegasnya.
Ia berharap kepengurusan baru bisa menjaga soliditas organisasi, memperkuat kolaborasi, dan menghadirkan inovasi menghadapi tantangan industri media modern.
Rumah Besar untuk Semua Platform Media
Ketua AMKI Sumsel, Dede Umar, menyebut tantangan dunia media kian kompleks. Kecepatan penyajian informasi harus dibarengi profesionalisme, integritas, dan independensi di tengah arus informasi digital yang deras.
“Perubahan teknologi sangat cepat, arus informasi semakin deras, sementara tuntutan profesionalisme terus meningkat. Semua itu harus dijawab dengan inovasi dan integritas,” kata Dede.
Ia mengakui memimpin organisasi media bukan pekerjaan ringan. Namun, soliditas yang mulai terbangun di internal menjadi modal kuat. Antusiasme terhadap pelantikan, menurutnya, bahkan melebihi perkiraan panitia—banyak kolega media ingin hadir namun terkendala kapasitas ruangan.
Dua Program Awal: Kolaborasi dan Diskusi Publik
AMKI Sumsel menargetkan penguatan sinergi antarperusahaan media, peningkatan kualitas sumber daya manusia, serta penguatan fungsi kontrol sosial pers terhadap kebijakan publik.
“Kita perlu membangun kolaborasi yang sehat antara media dan pemerintah tanpa menghilangkan independensi pers. Media tetap harus menjadi pilar kontrol sosial yang profesional dan berpihak pada kepentingan publik,” tambah Dede.
Dalam kesempatan yang sama, AMKI Sumsel meluncurkan program diskusi publik bertajuk “Kopi Senja”. Forum ini dirancang sebagai ruang dialog terbuka yang mempertemukan pemangku kebijakan, insan media, akademisi, hingga masyarakat untuk menyikapi berbagai isu sosial.
Ketua DPRD Provinsi Sumatera Selatan, Andie Dinialdie, menyampaikan ucapan selamat melalui sambungan telepon karena berhalangan hadir. Ia berharap AMKI Sumsel mampu menjadi organisasi media yang solid, amanah, dan memberikan kontribusi positif bagi masyarakat.