Pencarian

Petani Banyuasin Dilatih Jual Cabai Langsung ke Konsumen Lewat Digital, Potong Rantai Tengkulak

Rabu, 10 Juni 2026 • 17:09:01 WIB
Petani Banyuasin Dilatih Jual Cabai Langsung ke Konsumen Lewat Digital, Potong Rantai Tengkulak
Petani Banyuasin mengikuti pelatihan pemasaran digital untuk memotong rantai tengkulak.

BANYUASIN — Ketergantungan petani pada rantai pasok konvensional yang panjang mulai dipangkas lewat program digitalisasi pertanian. Tim Pemberdayaan Universitas IBA menggandeng Kelompok Tani (Poktan) Sido Makmur di Banyuasin sebagai proyek percontohan nasional untuk menerapkan sistem pemasaran digital (digital marketing) dari tingkat petani.

Ketua Tim Pemberdayaan Universitas IBA, Yursida, mengatakan bahwa inovasi ini merupakan langkah strategis untuk menstabilkan harga pangan sekaligus meningkatkan kesejahteraan petani lokal.

"Menjawab tantangan pasar modern, para petani lokal saat ini dilatih untuk menguasai manajemen pemasaran pascapanen berbasis digital. Materi hilirisasi tersebut diberikan untuk memotong rantai distribusi agar petani bisa menikmati keuntungan yang lebih besar," kata Yursida dalam rilisnya di Palembang, Rabu.

Dua Sektor Sekaligus: Hulu dan Hilir

Program ini memadukan dua pendekatan sekaligus. Di sektor hulu, petani diajarkan memproduksi komoditas pemicu inflasi seperti cabai keriting varietas unggul Neno IPB menggunakan teknologi Proliga (produksi lipat ganda). Tujuannya menjaga kontinuitas pasokan pasar.

Sementara di sektor hilir, petani didampingi oleh tim akademisi Program Pemberdayaan Kemitraan Masyarakat (PKM) Universitas IBA yang beranggotakan Karlin Agustina dan Pandriadi. Pendampingan ini fokus pada cara menembus rantai konsumen akhir tanpa perantara.

Target Nasional: Tekan Inflasi Bahan Pangan

Langkah integrasi digital ini selaras dengan program prioritas Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi melalui pendanaan Direktorat Riset, Teknologi, dan Pengabdian Kepada Masyarakat (DRTPM) tahun anggaran 2025. Program ini mempercepat digitalisasi sektor pertanian (agritech) di tingkat akar rumput.

Yursida menilai, jika model hilirisasi digital ini diadopsi secara massal di berbagai sentra produksi pangan nasional, ketergantungan terhadap rantai distribusi konvensional yang panjang dapat ditekan. Hal ini secara otomatis mendukung target pemerintah dalam mengendalikan volatile foods atau bahan pangan bergejolak.

Dukungan Lintas Sektor dari Kecamatan hingga TNI

Program modernisasi tata niaga pertanian yang melibatkan mahasiswa Fakultas Pertanian ini mendapat dukungan penuh dari lintas sektoral di daerah. Mulai dari pemerintah kecamatan, petugas penyuluh lapangan (PPL), hingga aparat komando kewilayahan TNI dan Polri turut mendorong adopsi sistem ini.

Program penguatan ini merupakan bagian dari Gerakan Nasional Pengendalian Inflasi Pangan (GNPIP) yang gencar dicanangkan pemerintah. Dengan pemasaran langsung dari petani, diharapkan harga di tingkat konsumen lebih stabil dan keuntungan petani meningkat signifikan.

Bagikan
Sumber: sumsel.antaranews.com

Berita Lainnya

Indeks

Pilihan

Indeks

Berita Terkini

Indeks