OGAN KOMERING ILIR — Badan Pusat Statistik (BPS) merilis data terbaru mengenai prevalensi ketidakcukupan pangan atau Prevalence of Undernourishment (PoU) di Kabupaten Ogan Komering Ilir. Angkanya mencapai 6,86 persen pada 2025, naik tipis dari catatan tahun sebelumnya.
Dalam lima tahun terakhir, angka ini justru menunjukkan tren penurunan sebesar 1,46 persen. Kondisi ini mencerminkan bahwa secara jangka panjang, akses pangan di OKI perlahan membaik, meski dalam setahun terakhir ada sedikit peningkatan.
Apa Itu Prevalensi Ketidakcukupan Pangan?
Badan Pangan Nasional (Bapanas) mendefinisikan PoU sebagai kondisi seseorang secara reguler mengonsumsi jumlah makanan yang tidak mencukupi untuk memenuhi kebutuhan energi yang diperlukan untuk hidup normal, aktif, dan sehat. Indikator ini menjadi alat untuk melihat tingkat kerawanan pangan dan gizi suatu wilayah.
Artinya, kurang dari 6,86 persen dari total penduduk OKI yang mengonsumsi makanan namun kebutuhan energinya masih belum terpenuhi secara memadai.
Bagaimana Posisi OKI Dibandingkan Daerah Lain?
Dari 16 kabupaten/kota di Sumatera Selatan, PoU Ogan Komering Ilir menempati urutan ke-9. Wilayah dengan angka terendah atau kondisi pangan terbaik adalah Kota Palembang dengan 3,58 persen. Sementara Kabupaten Empat Lawang mencatat PoU tertinggi di provinsi ini, yakni 11,07 persen.
Berikut daftar 10 kabupaten/kota dengan prevalensi ketidakcukupan pangan terendah di Sumsel pada 2025:
- Kota Palembang: 3,58%
- Kabupaten Musi Banyuasin: 3,59%
- Kabupaten Lahat: 4,64%
- Kabupaten Banyuasin: 4,96%
- Kabupaten Ogan Ilir: 5,35%
- Kabupaten Muara Enim: 5,59%
- Kabupaten Musi Rawas Utara: 6,35%
- Kabupaten Ogan Komering Ulu Timur: 6,48%
- Kabupaten Ogan Komering Ilir: 6,86%
- Kabupaten Ogan Komering Ulu: 7,07%
Kenaikan angka PoU di OKI pada 2025 menjadi perhatian bagi pemerintah daerah untuk mengkaji kembali program ketahanan pangan dan distribusi bahan pokok di wilayah rawan. Meski masih di bawah rata-rata nasional, tren kenaikan tahunan perlu diantisipasi agar tidak berlanjut.