PALEMBANG — Kualitas udara di Sumatera Selatan pagi ini menjadi yang terburuk di Indonesia. Berdasarkan data Indeks Standar Pencemar Udara (ISPU) yang dirilis Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) pada Sabtu (15/8/2026) pukul 08.00 WIB, indeks kualitas udara di provinsi ini mencapai 157.
Angka tersebut menempatkan Sumatera Selatan di posisi teratas sebagai wilayah dengan polusi udara terparah, mengungguli Jambi yang berada di urutan kedua dengan indeks 155, serta Banten di posisi ketiga dengan indeks 135.
Masuk Kategori Tidak Sehat, Apa Dampaknya bagi Warga?
Berdasarkan Peraturan Menteri LHK No. 14 Tahun 2020 tentang Indeks Standar Pencemar Udara, rentang ISPU 101-200 masuk kategori tidak sehat. Pada level ini, kualitas udara dinilai bersifat merugikan bagi manusia, hewan, maupun tumbuhan.
Kelompok sensitif seperti anak-anak, lansia, dan penderita penyakit pernapasan disarankan membatasi aktivitas di luar ruangan. Sementara itu, rentang 201-300 masuk kategori sangat tidak sehat yang meningkatkan risiko kesehatan pada kelompok sensitif, dan di atas 300 tergolong berbahaya yang memerlukan penanganan cepat.
Bagaimana ISPU Diukur?
Direktorat Pengendalian Pencemaran Udara KLHK menjelaskan bahwa ISPU merupakan angka tanpa satuan yang menggambarkan kondisi mutu udara ambien di lokasi tertentu. Perhitungan ini didasarkan pada dampak terhadap kesehatan manusia, nilai estetika, dan makhluk hidup lainnya.
Pengukuran dilakukan berdasarkan tujuh parameter pencemar udara, yakni PM10, PM2.5, NO2, SO2, CO, O3, dan HC. Data tersebut dihimpun dari 72 stasiun pemantau yang tersebar di berbagai daerah di Indonesia.
Provinsi dengan Kualitas Udara Terburuk Lainnya
Berikut daftar 10 provinsi dengan indeks kualitas udara terburuk di Indonesia pada Sabtu, 15 Agustus 2026 pukul 08.00 WIB:
- Sumatera Selatan: 157
- Jambi: 155
- Banten: 135
- Kalimantan Timur: 124
- Kalimantan Tengah: 110
- Jawa Barat: 102
- Sumatera Selatan: 90
- Riau: 88
- Sumatera Barat: 87
- Lampung: 85
Berdasarkan data tersebut, tidak ada wilayah di Indonesia yang mencatatkan kualitas udara berbahaya pada pagi hari ini. Namun, tingginya angka ISPU di sejumlah provinsi Sumatera dan Kalimantan kerap dikaitkan dengan musim kemarau yang memicu kebakaran hutan dan lahan, meskipun penyebab pastinya perlu dikonfirmasi lebih lanjut dari instansi terkait.