SUMATERA SELATAN — Pemerintah AS melalui Gedung Putih mengumumkan komitmen pembelian tersebut dalam dokumen lembar fakta resmi yang dirilis usai KTT bilateral, Minggu (24/5/2026). Dokumen itu menyebutkan pembelian mencakup tahun 2026, 2027, dan 2028, serta tidak termasuk perjanjian terpisah mengenai komoditas kedelai yang sudah dibuat China pada Oktober 2025.
Pintu Impor Daging dan Unggas Dibuka Kembali
Selain komoditas pertanian, Beijing juga sepakat bekerja sama dengan regulator AS untuk memulihkan akses fasilitas pemrosesan daging sapi Amerika. China juga akan membuka kembali impor unggas dari wilayah yang telah bersertifikat bebas flu burung.
Sebagai langkah nyata, Beijing telah memperpanjang izin registrasi lima tahun bagi 425 fasilitas daging sapi AS yang sempat dibekukan akibat konflik tarif tahun lalu. Selain itu, izin baru diberikan untuk 77 fasilitas tambahan. Total, ada 502 fasilitas yang kini bisa kembali mengekspor ke China.
Dewan Perdagangan dan Investasi Dibentuk
Menteri Luar Negeri China Wang Yi menyatakan kedua negara sepakat membentuk Dewan Perdagangan AS-China serta Dewan Investasi AS-China. Tujuan dari dewan ini adalah menyelesaikan hambatan akses pasar yang tersisa dalam kerangka penurunan tarif bersama.
Langkah ini dinilai sebagai upaya meredakan ketegangan dagang yang sudah berlangsung lama, meskipun belum ada kesepakatan menyeluruh soal pengurangan tarif.
KTT Hangat Tapi Tak Capai Terobosan Besar
Meskipun disambut upacara militer yang hangat oleh Presiden Xi Jinping, KTT bilateral ini gagal menghasilkan terobosan besar di isu-isu sensitif. Tidak ada kemajuan signifikan terkait kedaulatan Taiwan, penyelesaian konflik Iran, maupun pengurangan tarif dagang secara menyeluruh.
Presiden Donald Trump disebut menyelesaikan kunjungan tanpa mendapatkan dukungan berarti dari Beijing, terutama dalam upaya penanganan ketegangan bersenjata di Timur Tengah yang melibatkan Iran. Namun, kesepakatan pertanian senilai Rp301 triliun per tahun setidaknya menjadi pencapaian ekonomi yang bisa dibawa pulang.
Bagi petani dan industri pengolahan daging AS, kepastian pasar China selama tiga tahun ke depan menjadi angin segar di tengah ketidakpastian geopolitik global. Sementara bagi China, komitmen ini mengamankan pasokan pangan dalam jumlah besar dengan harga yang relatif stabil.