SUMATERA SELATAN — Jogja Expo Center menjadi saksi diskusi hangat antara dua raksasa bisnis Indonesia akhir pekan lalu. Hery Gunardi, yang memimpin Bank Rakyat Indonesia, dan Chairul Tanjung, pendiri CT Corp, sepakat bahwa langkah awal menentukan nasib sebuah usaha. Keduanya membagikan pengalaman dalam sesi Education Class yang digelar di sela Jogja Financial Festival.
Pilih Industri dengan Hambatan Masuk Rendah
Hery Gunardi membuka sesi dengan saran yang cukup praktis. Ia menyarankan calon pengusaha untuk memilih sektor usaha yang tidak memiliki hambatan masuk alias entry barrier yang tinggi.
"Jadi kalau memang mau masuk mulai usaha, masuklah ke industri yang entry barrier enggak susah," ujar Hery dalam keterangan resmi yang diterima, Kamis (4/6/2026).
Setelah menentukan sektor, ia mendorong pebisnis pemula untuk memetakan pasar secara menyeluruh. Mulai dari karakter konsumen hingga peta persaingan, semua harus dipahami.
"Siapa pemainnya? Siapa pesaingnya? Siapa yang pegang market share paling besar? Kenapa dia bisa besar? Kenapa dia bisa lebih maju? Nah kita belajar dari yang sudah maju," papar Hery.
Pisahkan Rekening, Jaga Nyawa Bisnis di Enam Bulan Pertama
Salah satu penyebab utama UMKM mandek di tengah jalan, menurut Hery, adalah manajemen keuangan yang kacau. Ia menyoroti kebiasaan buruk mencampur uang pribadi dengan uang usaha.
"Kebanyakan masih belum memisahkan antara catatan belanja pribadi dengan belanja usaha, itu catatannya sama. Jadi tidak tahu ini untung yang mana, rugi yang mana," terangnya.
Lebih kritis lagi, Hery mengingatkan bahwa enam bulan pertama bukanlah soal mengejar laba. Fokus utama adalah menjaga arus kas alias cash flow tetap sehat.
"Jadi misalnya gini, Bapak sebenarnya potensi punya cash flow bagus, tapi Bapak masih ngutang ke pelanggan, akhirnya cash-nya kan terlambat. Nah biasanya habis napas itu karena cash-nya tidak cukup," jelasnya.
TikTok dan Media Sosial: Senjata Baru Pengusaha Muda
Tak ketinggalan, Chairul Tanjung menekankan pentingnya penguasaan teknologi. Menurut pria yang akrab disapa CT ini, produk yang unik dengan pasar besar harus dijemput lewat platform digital.
"Nah itu akan hidup. Dan jangan lupa manfaatkan teknologi untuk adik-adik ini sekarang," kata CT.
Ia bahkan menyebut pergeseran pola konsumsi masyarakat kini sangat drastis. Toko fisik bukan lagi satu-satunya cara menjangkau pembeli.
"Namanya TikTok itu berpengaruh sangat luar biasa dalam namanya promosi barang, namanya jualan, sudah mengalahkan jauh Instagram, apalagi Facebook. Jadi, harus paham teknologi," pungkas CT.
Senada dengan CT, Hery menambahkan bahwa teknologi bisa menekan biaya operasional sekaligus memperluas jangkauan pasar. Ia mencontohkan penggunaan internet untuk berjualan di TikTok atau Instagram sebagai inovasi yang wajib diadopsi pengusaha masa kini.