PALEMBANG — Tim SAR Gabungan akhirnya mengakhiri pencarian setelah menemukan jasad Heriyanto (46), ABK kapal jukung Putra Kelana yang hilang di Sungai Musi. Korban ditemukan mengapung dan tersangkut di tumpukan eceng gondok di dekat Jembatan Musi VI, Palembang, pada Senin pagi.
Kasi Operasi Kantor SAR Palembang, Mancarah Wanto, mengonfirmasi bahwa korban ditemukan dalam kondisi meninggal dunia. "Korban ditemukan pada hari kedua operasi pencarian," katanya di Palembang, Senin.
Kronologi: Berpamitan Membuat Kopi, Tak Kembali Lagi
Peristiwa nahas itu terjadi pada Sabtu (18/7) sekitar pukul 23.00 WIB. Kapal jukung Putra Kelana yang membawa dua orang berlayar dari Dermaga Jembatan Ampera menuju Sungai Baung.
Di tengah perjalanan, Heriyanto berpamitan kepada rekannya untuk membuat kopi di bagian buritan kapal. Saat rekannya memeriksa buritan karena korban tak kunjung kembali, Heriyanto sudah tidak ada di tempat. Ia diduga kuat terjatuh ke sungai.
Pencarian Terlambat, Tim SAR Bergerak Cepat Setelah Laporan Masuk
Kantor SAR Palembang baru menerima laporan kehilangan pada Minggu (19/7) sekitar pukul 15.40 WIB — hampir 17 jam setelah korban dinyatakan hilang. Tim penyelamat langsung diterjunkan bersama unsur SAR gabungan.
Pada hari kedua, Tim SAR Gabungan membagi kekuatan menjadi dua Search and Rescue Unit (SRU). SRU pertama menyisir permukaan air ke arah timur sejauh 6 NM², sementara SRU kedua bergerak ke arah barat daya sejauh 4 NM². Total area pencarian mencapai 10 Nautical Mile (NM²) menggunakan rigid buoyancy boat (RBB), perahu karet, dan speedboat.
Imbauan Basarnas: Utamakan Jaket Pelampung Saat Berlayar
Mancarah mengapresiasi sinergi seluruh unsur SAR gabungan yang terlibat, mulai dari Basarnas, TNI, Polri, hingga masyarakat setempat. Jasad korban telah dievakuasi ke rumah duka untuk diserahkan kepada pihak keluarga.
Ia mengimbau para pengguna transportasi air untuk selalu mengutamakan keselamatan. "Kami mengimbau masyarakat yang beraktivitas di perairan agar selalu menggunakan alat pelindung diri seperti jaket pelampung, selalu berhati-hati, dan menghindari aktivitas berisiko saat kapal sedang berlayar," ujarnya.
Mancarah menambahkan, masyarakat yang menghadapi situasi darurat dapat menghubungi Basarnas melalui layanan Emergency Call 115 yang dapat diakses gratis selama 24 jam.