OGAN KOMERING ILIR — Api masih membara di lahan gambut seluas enam hektare milik warga di Desa Sumber Hidup, Kecamatan Pedamaran Timur. Operasi pemadaman terus dilakukan melalui jalur darat dan udara setelah kebakaran pertama kali terdeteksi lewat patroli udara.
Kepala Balai Pengendalian Kebakaran Hutan Kementerian Kehutanan Wilayah Sumatera, Ferdian Kristanto, mengatakan medan gambut dan kondisi angin yang tak menentu menjadi kendala utama. “Kebakaran di Pedamaran terjadi di lahan gambut seluas enam hektare. Kondisi angin berubah-ubah arah dan asap cukup pekat. Status api belum padam sehingga masih dibutuhkan pemadaman lanjutan,” ujarnya, Jumat (3/7/2026).
Baru Satu Hektare Terkuasai, Bara di Gambut Berpotensi Menyala Lagi
Petugas baru berhasil menguasai sekitar satu hektare area yang terbakar sejak operasi dimulai pada Kamis. Sisa titik api masih terus dipadamkan karena karakteristik lahan gambut membuat bara di bawah permukaan berpotensi menyala kembali kapan saja.
Vegetasi di lokasi didominasi semak belukar, belidang, tegakan gelam, dan pakis kering yang mudah terbakar. Kondisi ini mempercepat penyebaran api saat angin bertiup kencang.
45 Personel Manggala Agni Dikerahkan, Dibantu TNI-Polri
Untuk mempercepat pengendalian, jumlah personel Manggala Agni di lokasi ditambah menjadi 45 orang. Mereka bergabung dengan Regu Pemadam Kebakaran (RPK) PT PSM, personel TNI, Polri, serta Masyarakat Peduli Api (MPA).
Selain kekuatan darat, Satgas Karhutla menerbangkan helikopter water bombing untuk menjatuhkan air ke titik-titik api yang sulit dijangkau. Dukungan udara ini diharapkan mampu mendinginkan area terbakar dan mencegah api meluas ke lahan warga lainnya.
Peringatan untuk Warga: Jangan Buka Lahan dengan Membakar
Ferdian mengingatkan masyarakat agar tidak membuka lahan dengan cara membakar, terutama saat musim kemarau ketika vegetasi sangat kering dan api mudah menyebar. “Kami mengimbau masyarakat segera melaporkan apabila menemukan titik api agar dapat ditangani sedini mungkin sebelum berkembang menjadi kebakaran yang lebih besar,” tegasnya.
Kebakaran di OKI menjadi peringatan dini bagi daerah-daerah rawan karhutla di Sumatera Selatan yang memasuki puncak musim kemarau. Petugas di lapangan masih berjibaku memadamkan sisa bara yang mengintai di bawah permukaan gambut.