Palembang, Sumatera Selatan, bukan sekadar kota pempek. Di balik kuliner legendarisnya, wilayah ini adalah saksi bisu kejayaan maritim Nusantara. Kerajaan Sriwijaya, yang berkuasa dari abad ke-7 hingga ke-13, meninggalkan jejak yang bisa Anda saksikan langsung. Bagi warga lokal yang ingin mengenal kembali akar sejarah, atau wisatawan yang mencari pengalaman berbeda, berikut adalah 7 destinasi yang menghidupkan kembali masa lalu.
1. Jembatan Ampera: Ikon yang Tak Pernah Tidur
Jembatan sepanjang 1.177 meter ini bukan sekadar penghubung antara Seberang Ulu dan Seberang Ilir. Dibangun pada tahun 1965 menggunakan material dari Jepang sebagai bagian dari proyek pasca-konfrontasi, Jembatan Ampera menjadi titik nol kota. Ketinggiannya mencapai 63 meter, memungkinkan kapal-kapal besar melintas di bawahnya.
Waktu terbaik untuk berkunjung adalah sore hari menjelang magrib. Lampu-lampu kota mulai menyala, dan Anda bisa berjalan kaki menyeberangi jembatan sambil menikmati angin Sungai Musi. Tidak ada biaya masuk. Lokasinya persis di pusat kota, akses mudah dari Bandara Sultan Mahmud Badaruddin II (sekitar 20 menit berkendara).
2. Benteng Kuto Besak (BKB): Saksi Bisu Kolonial Belanda
Benteng ini dibangun tahun 1780 oleh Sultan Mahmud Badaruddin I, bukan oleh Belanda. Fakta ini sering luput dari catatan wisata umum. Dindingnya yang kokoh setebal 1,5 meter terbuat dari batu bata yang direkatkan dengan putih telur dan kapur. Letaknya tepat di tepi Sungai Musi, berseberangan dengan Jembatan Ampera.
Saat ini, BKB menjadi ruang publik yang ramai setiap akhir pekan. Anda bisa duduk di taman depan sambil menyaksikan kapal-kapal klotok melintas. Jam buka 24 jam, gratis. Namun, area museum di dalam benteng hanya buka pukul 08.00–16.00 WIB dengan tiket Rp5.000 per orang.
3. Museum Sultan Mahmud Badaruddin II: Koleksi Prasasti Sriwijaya
Museum ini menyimpan replika Prasasti Kedukan Bukit (683 M), bukti tertua keberadaan Kerajaan Sriwijaya. Koleksi lainnya termasuk arca Buddha perunggu abad ke-8 dan keramik Dinasti Ming yang ditemukan di dasar Sungai Musi. Bangunan museum sendiri adalah bekas rumah dinas residen Belanda, bergaya arsitektur Indische.
Lokasinya di Jalan Sultan Mahmud Badaruddin II, tepat di seberang Benteng Kuto Besak. Tiket masuk Rp5.000 untuk dewasa, Rp3.000 untuk anak-anak. Buka Selasa–Minggu pukul 08.00–15.30 WIB. Senin tutup. Sediakan waktu minimal 2 jam untuk melihat seluruh koleksi.
4. Pulau Kemaro: Legenda Putri Tiongkok dan Candi
Pulau seluas 5 hektar di tengah Sungai Musi ini menyimpan kisah cinta tragis antara Putri Siti Fatimah dan pangeran Tiongkok. Setiap tahun, saat Cap Go Meh, ribuan lampion diterbangkan dari pulau ini. Di sini terdapat Kelenteng Hok Tjing Bio yang dibangun tahun 1962 dan stupa Buddha setinggi 15 meter.
Akses dari dermaga 16 Ilir menggunakan perahu klotok. Biaya sewa perahu Rp150.000–Rp200.000 pulang-pergi untuk 4–6 orang, durasi perjalanan sekitar 20 menit. Tidak ada tiket masuk pulau. Datanglah pagi hari untuk menghindari terik dan keramaian.
5. Kampung Kapitan: Arsitektur Tionghoa Abad ke-19
Kampung ini adalah permukiman tua etnis Tionghoa yang masih mempertahankan arsitektur asli. Rumah-rumah panggung kayu dengan ukiran naga dan atap melengkung masih berdiri kokoh di tepi Sungai Musi. Kapitan merupakan gelar untuk pemimpin komunitas Tionghoa pada masa kolonial.
Lokasinya di Kelurahan 7 Ulu, Kecamatan Seberang Ulu I. Jalan kaki menyusuri gang sempit adalah cara terbaik menikmati atmosfer. Tidak ada biaya masuk. Warga setempat ramah dan sering membukakan pintu rumah untuk pengunjung yang ingin melihat interior. Bawa kamera, tapi minta izin dulu sebelum memotret.
6. Taman Purbakala Kerajaan Sriwijaya: Jejak Peradaban Maritim
Kompleks percandian ini terletak di Desa Karang Anyar, Kecamatan Gandus, sekitar 15 km dari pusat Palembang. Di sini ditemukan struktur bata kuno, pecahan keramik, dan saluran air yang menunjukkan sistem drainase maju pada zamannya. Pengunjung bisa melihat langsung proses ekskavasi yang masih berlangsung.
Tiket masuk Rp5.000. Buka pukul 08.00–17.00 WIB. Akses menggunakan kendaraan pribadi atau ojek online (Rp50.000 dari pusat kota). Tidak ada angkutan umum langsung ke lokasi. Bawalah air minum sendiri karena minim penjual di sekitar.
7. Sungai Musi: Jantung Kehidupan dan Jalur Perdagangan
Sungai sepanjang 750 km ini adalah urat nadi Sumatera Selatan sejak era Sriwijaya. Kapal-kapal dagang dari India, Tiongkok, dan Arab pernah berlabuh di sini. Kini, Anda bisa menyusuri sungai dengan perahu klotok sambil melihat kehidupan sehari-hari warga di rumah panggung.
Sewa perahu untuk tur 1 jam sekitar Rp100.000 per orang. Keberangkatan dari dermaga Benteng Kuto Besak. Waktu terbaik adalah pukul 16.00–17.30 WIB saat matahari mulai tenggelam. Anda akan melewati Jembatan Ampera dan melihat aktivitas pasar terapung tradisional.
Pertanyaan yang Sering Diajukan
Berapa biaya transportasi dari bandara ke pusat kota Palembang?
Dari Bandara Sultan Mahmud Badaruddin II ke pusat kota (Jembatan Ampera) sekitar Rp50.000–Rp70.000 menggunakan taksi online. Waktu tempuh 20–30 menit tergantung lalu lintas.
Apa makanan khas Sumatera Selatan yang wajib dicoba selain pempek?
Model (sup ikan dengan kuah kuning), tekwan (bakso ikan soun), dan pindang patin (ikan patin kuah asam pedas). Rata-rata harga Rp15.000–Rp30.000 per porsi.
Kapan waktu terbaik berkunjung ke Sumatera Selatan?
Mei–September adalah musim kemarau. Curah hujan rendah, akses ke lokasi seperti Taman Purbakala lebih mudah. Hindari Desember–Februari karena banjir sering terjadi di daerah rendah.
Apakah semua destinasi ramah untuk anak-anak?
Ya. Jembatan Ampera, Benteng Kuto Besak, dan Kampung Kapitan aman untuk anak-anak. Untuk Pulau Kemaro, pastikan anak menggunakan pelampung selama naik perahu.
Berapa lama waktu yang dibutuhkan untuk mengunjungi semua tempat ini?
Minimal 3 hari. Hari pertama fokus di pusat kota (Jembatan Ampera, BKB, Museum). Hari kedua ke Pulau Kemaro dan Kampung Kapitan. Hari ketiga ke Taman Purbakala.
Sumatera Selatan bukan destinasi yang berteriak. Ia lebih seperti buku sejarah yang terbuka perlahan. Setiap sudut kota, setiap lengkung sungai, menyimpan cerita yang menunggu untuk ditemukan. Tidak perlu terburu-buru. Duduklah di tepi Musi, biarkan angin sore membawa Anda kembali ke masa ketika kapal-kapal asing berlabuh membawa rempah dan kisah.