PALEMBANG — Ribuan hektare lahan di Sumatera Selatan kini dalam status waspada kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Sepanjang Januari hingga awal Juli 2026, BPBD Sumsel mencatat total 2.342 titik panas telah terdeteksi, dengan puncaknya terjadi pada Juni sebanyak 755 titik dan Mei sebanyak 708 titik. Angka ini menjadi yang tertinggi sejak 2015.
Empat Kabupaten dengan Titik Panas Terbanyak
Kepala Bidang Penanganan Darurat BPBD Sumsel Sudirman menyebutkan, dalam 10 hari pertama Juli, titik panas tersebar di hampir seluruh kabupaten. Namun, empat daerah mencatat angka paling signifikan:
- Musi Banyuasin (Muba): 89 titik
- Muara Enim: 71 titik
- Ogan Komering Ilir (OKI): 67 titik
- Ogan Komering Ulu (OKU): 65 titik
Wilayah lain yang juga terpantau tinggi adalah Lahat dengan 38 titik, Ogan Ilir 37 titik, PALI 27 titik, OKU Timur 22 titik, dan Banyuasin 20 titik. Sementara itu, Kota Lubuklinggau dan Palembang tercatat nihil titik panas sepanjang Juli ini.
Cuaca Kering Picu Lonjakan, Bukan Berarti Api Sudah Pasti Membakar
Menurut Sudirman, meningkatnya jumlah hotspot dipengaruhi kondisi cuaca yang semakin kering akibat berkurangnya intensitas hujan. Meski begitu, ia menegaskan bahwa titik panas yang terdeteksi satelit belum tentu merupakan titik api yang sudah membakar lahan.
"Hotspot merupakan indikator awal yang harus segera ditindaklanjuti. Karena itu kami terus melakukan patroli darat dan pemantauan agar setiap potensi kebakaran bisa ditangani sedini mungkin," ujar Sudirman, Sabtu (11/7/2026).
Patroli Darat Diperketat, Masyarakat Diminta Tak Bakar Lahan
BPBD Sumsel mengerahkan tim patroli darat untuk melakukan verifikasi langsung ke lapangan. Setiap titik panas yang terdeteksi akan diperiksa untuk memastikan apakah sudah berubah menjadi api atau masih sekadar peningkatan suhu permukaan.
Sudirman mengimbau masyarakat tidak membuka lahan dengan cara membakar, terutama saat kondisi cuaca kering seperti sekarang. Ia juga meminta warga segera melapor kepada petugas apabila menemukan titik api agar tidak berkembang menjadi kebakaran yang lebih luas.
"Peran masyarakat sangat penting dalam mencegah karhutla. Kami berharap semua pihak bersama-sama menjaga agar jumlah kebakaran tidak terus meningkat selama musim kemarau," ungkapnya.