OKU TIMUR — Kondisi ketahanan pangan di Kabupaten Ogan Komering Ulu Timur (OKU Timur) membaik dalam setahun terakhir. Data terbaru Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan prevalensi ketidakcukupan konsumsi pangan (Prevalence of Undernourishment/PoU) di wilayah itu turun 1,15%, dari 7,63% pada 2024 menjadi 6,48% pada 2025.
Angka ini menandakan bahwa kurang dari 6,48% dari total penduduk OKU Timur masih mengonsumsi makanan dengan asupan energi di bawah kebutuhan normal untuk hidup sehat dan aktif. Dalam lima tahun terakhir, prevalensi ini bahkan turun hingga 4,44%, menunjukkan tren perbaikan yang konsisten.
Lebih Baik dari Rata-Rata Nasional
Dengan angka 6,48%, PoU di OKU Timur tercatat lebih rendah dibandingkan rata-rata nasional yang mencapai 7,89% pada tahun yang sama. Artinya, proporsi penduduk yang mengalami kekurangan asupan energi di kabupaten ini lebih kecil ketimbang kondisi secara nasional.
Menurut Badan Pangan Nasional (Bapanas), PoU adalah indikator yang digunakan untuk mengukur kondisi kerawanan pangan dan gizi di suatu wilayah. Indikator ini menggambarkan proporsi penduduk yang secara regular tidak mendapatkan cukup energi dari makanan yang dikonsumsinya.
Peringkat ke-8 di Sumsel, Palembang Paling Rendah
Di antara 16 kabupaten/kota di Provinsi Sumatera Selatan, OKU Timur menempati urutan kedelapan sebagai wilayah dengan prevalensi ketidakcukupan pangan terendah. Posisi teratas ditempati Kota Palembang dengan angka 3,58%, disusul Kabupaten Musi Banyuasin (3,59%) dan Kabupaten Lahat (4,64%).
Sementara itu, kabupaten dengan PoU tertinggi atau paling rawan pangan di Sumsel adalah Kabupaten Empat Lawang, yang angkanya mencapai 11,07% pada 2025. Berikut daftar 10 kabupaten/kota dengan PoU terendah di Sumsel:
- Kota Palembang: 3,58%
- Kabupaten Musi Banyuasin: 3,59%
- Kabupaten Lahat: 4,64%
- Kabupaten Banyuasin: 4,96%
- Kabupaten Ogan Ilir: 5,35%
- Kabupaten Muara Enim: 5,59%
- Kabupaten Musi Rawas Utara: 6,35%
- Kabupaten Ogan Komering Ulu Timur: 6,48%
- Kabupaten Ogan Komering Ilir: 6,86%
- Kabupaten Ogan Komering Ulu: 7,07%
Penurunan prevalensi ini menjadi sinyal positif bagi upaya pemerintah daerah dalam memperkuat ketahanan pangan. Meski begitu, angka 6,48% masih menyisakan pekerjaan rumah, terutama untuk memastikan akses pangan bergizi merata hingga ke pelosok desa di OKU Timur.