PALEMBANG — Rombongan yang hadir dalam ziarah tersebut cukup beragam. Mulai dari Staf Khusus Gubernur Sumsel Kemas Khoirul Mukhlis, Ketua DPW Syarikat Islam Sumsel Vaishol Sandrogi, budayawan Sumsel Vebri Al Lintani, konten kreator Raden Genta Laksana, hingga seniman dan jurnalis. Mereka tidak hanya memanjatkan doa, tetapi juga meninjau langsung kondisi situs makam yang akan dijadikan pusat kegiatan Tabur Bunga Leluhur.
Menghidupkan Ingatan Kolektif Sejarah Palembang
Kemas Khoirul Mukhlis mengatakan, ziarah ke makam para tokoh leluhur Palembang merupakan bagian dari upaya menjaga ingatan kolektif masyarakat terhadap sejarah panjang Kesultanan Palembang Darussalam. “Melalui kegiatan ini, kita ingin menghidupkan kembali semangat menghormati para pendahulu yang telah meletakkan dasar peradaban Palembang. Sejarah harus dirawat dan diwariskan kepada generasi muda,” ujarnya.
Mengenal Pangeran Sido Ing Rejek: Penguasa di Masa Transisi
Budayawan Sumsel Vebri Al Lintani menilai makam Pangeran Sido Ing Rejek memiliki nilai historis yang sangat penting. Sebab, tokoh yang juga dikenal dengan gelar Jamaluddin Mangkurat VI atau Pangeran Ratu Sultan Jamaluddin Mangkurat VI ini memerintah pada masa transisi kekuasaan Palembang, sebelum berkembang menjadi Kesultanan Palembang Darussalam.
Menurut sejumlah sumber sejarah, masa pemerintahannya berlangsung sekitar tahun 1651 hingga 1659. Ia menggantikan Pangeran Sido Ing Pasarean. Pada era kepemimpinannya, hubungan Palembang dengan VOC mengalami ketegangan yang berujung pada konflik terbuka.
Serangan VOC dan Jejak Terakhir Sang Raja
Serangan VOC pada tahun 1659 menyebabkan Keraton Kuto Gawang terbakar. Setelah peristiwa itu, Pangeran Sido Ing Rejek menyingkir ke wilayah Sakatiga yang kini berada di Kabupaten Ogan Ilir. Ia kemudian dimakamkan di daerah tersebut.
Para tokoh yang hadir berharap, melalui rencana kegiatan Tabur Bunga Leluhur Palembang Darussalam, situs makam ini semakin dikenal sebagai salah satu jejak penting peradaban Palembang. Tak hanya itu, lokasi tersebut juga diharapkan bisa menjadi destinasi wisata sejarah dan religi di Sumatera Selatan.