PRABUMULIH — Di tengah tekanan alamiah penurunan produksi di lapangan migas yang sudah berusia, PHR Zona 4 tetap mencatatkan rapor positif pada paruh pertama 2026. General Manager PHR Zona 4 Djudjuwanto menyebut keberhasilan ini tidak lepas dari strategi pengeboran yang tidak hanya mengejar target produksi, tetapi juga membuka potensi cadangan baru.
"Ide besar pengeboran yang dilakukan PHR Zona 4 adalah setiap pengeboran tidak hanya menghasilkan produksi, tetapi juga membuka peluang penemuan cadangan baru guna mendukung keberlanjutan operasi perusahaan dan ketahanan energi nasional di masa mendatang," ujar Djudjuwanto.
Step Out Drilling: Mengebor di Luar Batas Wilayah Produktif
Salah satu strategi utama yang diterapkan adalah step out drilling, yaitu pengeboran di luar batas area yang telah terbukti produktif. Metode ini bertujuan untuk mengetahui apakah kemenerusan reservoir masih mengalir di wilayah sekitar. Sepanjang 2026, PHR Zona 4 merencanakan pengeboran step out di empat lapangan entitas Pertamina EP (PEP), yakni PEP Adera Field, Prabumulih Field, Ramba Field, dan Limau Field.
Sebanyak enam sumur menjadi sasaran pengeboran step out, antara lain ABB-A5, BNG-A12, GNK-PD17, LKT-23, MJ-OS2 NRB-B, serta LVT-B. Dari keenam sumur tersebut, perusahaan menargetkan tambahan produksi minyak sebesar 209 BOPD dan gas 0,04 MMSCFD.
Dual Completion: Satu Sumur, Dua Reservoir
Selain step out drilling, PHR Zona 4 juga menerapkan metode dual completion di empat sumur pada 2026. Metode ini memungkinkan produksi dari dua reservoir berbeda hanya melalui satu lubang sumur, sehingga mengoptimalkan perolehan hidrokarbon dan meningkatkan efisiensi pengembangan lapangan.
Sumur yang menjadi sasaran dual completion adalah BNG-D14, BNG-D19, dan BNG-B7 yang merupakan bagian dari Adera Field, serta sumur GNK-PD80 di Prabumulih Field. Target dari metode ini adalah peningkatan produksi minyak 325 BOPD dan gas 2,43 MMSCFD.
Menahan Laju Natural Decline di Lapangan Tua
Lapangan migas yang telah beroperasi puluhan tahun, seperti yang dikelola PHR Zona 4 di Sumatera Selatan, menghadapi tantangan natural decline—penurunan produksi alami akibat menurunnya tekanan reservoir dan menipisnya cadangan hidrokarbon. Tanpa intervensi, laju penurunan ini bisa mencapai 10-15 persen per tahun.
Oleh karena itu, kombinasi antara pengeboran pengembangan, step out drilling, dan dual completion menjadi kunci untuk menjaga pasokan energi nasional. Dengan realisasi 27 rencana kerja pengeboran yang melampaui target, PHR Zona 4 membuktikan bahwa lapangan mature masih bisa dioptimalkan melalui pendekatan teknis yang tepat.