SEKAYU — Angka putus sekolah di Kabupaten Musi Banyuasin (Muba) mencapai sekitar 19.000 anak, menjadikannya daerah dengan kasus tertinggi di Sumatera Selatan. Ironisnya, Muba juga dikenal sebagai kabupaten dengan kondisi ekonomi paling kuat di provinsi itu, disusul Ogan Ilir.
Data DPRD: Mayoritas Putus Sekolah Saat Transisi SMP ke SMA
Ketua Komisi V DPRD Sumsel Alwis Gani mengungkapkan bahwa mayoritas anak putus sekolah terjadi pada masa transisi dari jenjang SMP menuju SMA/SMK. Penyebabnya beragam: faktor ekonomi, jarak tempuh ke sekolah yang jauh, pernikahan usia dini, hingga daya tampung sekolah negeri yang terbatas.
Menanggapi kondisi itu, Pemkab Muba disebut tengah mendorong pembangunan Sekolah Rakyat di Kota Sekayu sebagai solusi jangka pendek.
Kritik Pengamat: Jalan Dibangun Bertahun-tahun, Sekolah Terasa Sulit
Pengamat kebijakan publik Feri Kurniawan menyoroti kontras antara kemampuan fiskal Muba yang kuat dengan tingginya angka putus sekolah. Menurutnya, alasan keterbatasan sekolah atau daya tampung seharusnya tidak lagi menjadi masalah bagi daerah kaya.
“Saya heran, setiap tahun pemerintah mampu membangun jalan baru, jembatan, bahkan dalam satu tahun bisa beberapa ruas jalan dikerjakan. Artinya anggaran itu ada. Lalu mengapa membangun sekolah yang menjadi kebutuhan dasar masyarakat justru terasa begitu sulit?” ujar Feri saat dihubungi SuaraMetropolitan, Sabtu (25/7/2026).
Feri menegaskan bahwa dirinya tidak menolak pembangunan infrastruktur. Namun, ia menilai pemerintah daerah harus menempatkan pendidikan sebagai investasi utama yang tidak kalah penting dibanding proyek fisik. “Jalan memang penting untuk menghubungkan daerah, tetapi sekolah adalah jalan untuk mengubah nasib anak-anak,” katanya.
Keberhasilan Daerah Jangan Hanya Diukur dari Panjang Jalan
Menurut Feri, ukuran keberhasilan sebuah daerah tidak semata-mata dari pendapatan, pertumbuhan ekonomi, atau panjang jalan yang selesai dibangun. “Tidak ada gunanya menyandang predikat daerah kaya kalau masih menjadi penyumbang anak putus sekolah terbanyak. Ukuran keberhasilan pemerintah bukan hanya berapa kilometer jalan yang selesai dibangun, tetapi juga berapa banyak anak yang berhasil diselamatkan dari putus sekolah,” pungkasnya.
Ia mendesak Pemerintah Kabupaten Muba melakukan evaluasi besar terhadap arah kebijakan pembangunan, khususnya dalam mengalokasikan anggaran untuk sektor pendidikan. “Jangan sampai kekayaan hanya terlihat dalam laporan dan angka-angka, sementara masa depan anak-anak justru terabaikan,” tegas Feri.