PALEMBANG — Ancaman lonjakan kasus Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) kembali menghantui warga Sumatera Selatan seiring masuknya puncak musim kemarau. Dinas Kesehatan (Dinkes) Sumsel mencatat, hingga saat ini total kasus ISPA di provinsi ini masih mengkhawatirkan, dengan Kota Palembang mendominasi angka tertinggi.
Berdasarkan data Dinkes Sumsel, Palembang mencatatkan 85.032 kasus ISPA sepanjang tahun ini. Angka ini jauh melampaui daerah lain seperti Muara Enim yang berada di posisi kedua dengan 30.668 kasus, disusul Musi Banyuasin 17.946 kasus, dan OKU Timur 15.109 kasus.
Kabupaten Banyuasin mencatat 14.140 kasus, Musi Rawas 13.700 kasus, serta Lahat 13.523 kasus. Sementara itu, kabupaten dan kota lainnya juga masih mencatat ribuan kasus.
Mengapa Kasus ISPA di Sumsel Masih Rentan Meningkat?
Kepala Dinkes Sumsel, Trisnawarman, menjelaskan bahwa pola musiman menjadi faktor utama. Setiap kali musim kemarau tiba, potensi karhutla meningkat dan kabut asap mulai menyelimuti sejumlah wilayah, yang secara langsung berdampak pada memburuknya kualitas udara.
"Biasanya setiap musim kemarau memang ada peningkatan kasus ISPA, apalagi jika disertai karhutla yang menyebabkan asap," ujarnya di Kantor Gubernur Sumsel, Selasa (4/8/2026).
Meski begitu, data internal Dinkes menunjukkan tren penurunan pada semester pertama 2026. Pada Januari lalu, kasus ISPA tercatat 50.651, kemudian menurun signifikan menjadi 33.582 kasus pada Juni. Sebagai perbandingan, pada periode yang sama tahun 2025, kasus justru meningkat dari 45.131 menjadi 40.067 kasus.
Kelompok Paling Rentan Terdampak Kabut Asap
Memasuki Agustus hingga September mendatang, risiko peningkatan kasus diperkirakan kembali muncul. Trisnawarman menegaskan bahwa penurunan kasus sebelumnya bukan alasan untuk lengah, terutama bagi kelompok masyarakat yang paling rentan.
Balita, lansia, ibu hamil, dan penderita penyakit kronis disebut memiliki daya tahan tubuh lebih lemah sehingga paling berisiko mengalami komplikasi akibat paparan polusi udara. Gejala yang perlu diwaspadai meliputi batuk, pilek, sakit tenggorokan, demam, hingga sesak napas pada kondisi yang lebih berat.
Langkah Mitigasi: Jaga Ventilasi dan Gunakan Masker
Untuk mengurangi risiko, Dinkes Sumsel mengimbau masyarakat menjaga kualitas udara di dalam rumah dengan membuka ventilasi pada pagi hari. Warga juga diminta menghindari asap rokok maupun pembakaran sampah di sekitar lingkungan tempat tinggal.
"Ancaman ISPA masih tetap ada. Karena itu masyarakat harus menjaga kesehatan dan mengurangi paparan asap, terutama jika terjadi kebakaran hutan dan lahan," katanya.
Penggunaan masker disarankan saat kualitas udara memburuk atau ketika beraktivitas di luar ruangan. Selain itu, pola hidup bersih dan sehat seperti rutin mencuci tangan, mengonsumsi makanan bergizi seimbang, berolahraga teratur, dan mencukupi waktu istirahat menjadi kunci menjaga daya tahan tubuh.
"Jangan menunggu sampai kondisi memburuk. Jika mengalami batuk yang tidak kunjung sembuh, demam tinggi, atau sesak napas, segera periksakan diri ke puskesmas atau rumah sakit agar mendapatkan penanganan lebih cepat," tegas Trisnawarman.