JAKARTA — Diah Permatasari tidak sekadar menggelar perayaan. Melalui Panggung Gembira, ia ingin menghadirkan Indonesia di Los Angeles lewat ragam ekspresi, mulai dari sajian kuliner, fesyen, hingga produk UMKM bernuansa tradisional.
Peran Diah dalam acara ini cukup sentral. Ia dipercaya sebagai Project Director untuk rangkaian kegiatan yang dirancang sebagai ruang silaturahmi warga diaspora sekaligus ajang promosi budaya ke masyarakat Amerika Serikat.
Fashion Show hingga Tas Tenun untuk Pasar Global
Panggung Gembira tidak hanya berisi bazar kuliner Nusantara. Diah melibatkan mahasiswa Indonesia di Los Angeles untuk menjadi model dalam peragaan busana yang digelar di acara tersebut.
Keterlibatan generasi muda diaspora disebutnya menjadi pengalaman langsung dalam membawa nama Indonesia di pentas internasional. Ia juga memboyong produk pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) Indonesia, salah satunya tas berbahan tenun tradisional.
Produk tersebut dibanderol dengan harga di bawah US$50 atau sekitar Rp 881 ribu. “Bukan semata-mata soal perdagangan, ada misi kebudayaan yang ingin disampaikan lewat setiap produk,” ujarnya dalam keterangan resmi, Senin (7/9/2026).
Misi Kebudayaan tanpa Anggaran Negara
Seluruh biaya pelaksanaan kegiatan ini ditanggung sendiri oleh Diah bersama tim. Tidak ada anggaran atau pembiayaan dari negara untuk mewujudkan ajang promosi budaya tersebut.
“Yang penting kita bisa ikut memajukan bangsa dan bisa menghibur masyarakat Indonesia yang ada di sana,” ujarnya.
Komitmen pribadi ini ia bawa lebih jauh ke dunia perfilman. Diah berencana memutar film-film klasik Indonesia secara gratis, termasuk judul legendaris Warkop, sebagai hiburan dan nostalgia bagi warga Indonesia di perantauan.
Acara Hari Kedua untuk Audiens Internasional
Promosi berlanjut pada 13 September di sebuah gedung bergaya Art Deco. Jika hari pertama menyasar diaspora, hari kedua justru disiapkan untuk menjangkau masyarakat lokal Amerika Serikat dan audiens internasional yang lebih luas.
Diah juga tengah mengupayakan pemutaran film Rego Nyowo. Prosesnya masih berjalan lantaran berkaitan dengan penyesuaian regulasi hak tayang di platform streaming Netflix.
“Melalui acara ini tentu saya berharap masyarakat dunia dapat melihat Indonesia tidak hanya sekadar destinasi wisata, tetapi juga dari kekayaan karya, kreativitas, dan budaya masyarakatnya,” pungkasnya.