SUMATERA SELATAN — Annabelle lahir dengan berat hanya 725 gram, adiknya Amira 925 gram, setelah operasi caesar darurat di usia kehamilan 27 minggu. Keduanya menghabiskan 135 hari di NICU sebelum akhirnya diizinkan pulang. Kisah Frances, ibu 39 tahun asal Sydney, memberi gambaran nyata tentang perjalanan bayi prematur ekstrem.
Frances, ibu berusia 39 tahun di Sydney, Australia, menjalani operasi caesar darurat saat kehamilannya baru memasuki 27 minggu. Ia mengaku sempat berpikir apakah akan membawa pulang satu bayi, dua bayi, atau justru kehilangan keduanya.
Kedua putrinya, Annabelle dan Amira, lahir sekitar tiga bulan lebih awal dari perkiraan. Perjalanan mereka berakhir bahagia setelah perawatan intensif selama berbulan-bulan.
Mengapa Persalinan Harus Terjadi di Usia 27 Minggu
Sebelumnya Frances dirawat di rumah sakit untuk memantau kehamilan kembarnya. Sehari sebelum persalinan darurat pada 29 Juni tahun sebelumnya, ia dirawat agar dokter dapat mengeluarkan kelebihan cairan ketuban dari salah satu bayi.
Langkah itu sekaligus memantau risiko twin-to-twin transfusion syndrome (TTTS), komplikasi yang muncul ketika aliran darah antara dua janin tidak seimbang. Keesokan paginya, dokter kandungan datang saat Frances sedang mandi dan menyampaikan ia harus segera melahirkan.
Tim medis khawatir salah satu bayi berisiko mengalami henti jantung. Operasi caesar darurat pun dilakukan tanpa banyak waktu untuk bersiap.
Berat Lahir 725 Gram dan 925 Gram
Annabelle lahir lebih dulu dengan berat hanya 725 gram. Amira menyusul dengan berat 925 gram. Saat melihat Annabelle untuk pertama kalinya, Frances merasa sulit mempercayai apa yang dilihatnya karena tubuh putrinya begitu mungil.
Ketegangan meningkat menjelang kelahiran Amira. Rahim Frances mengalami robekan dan situasi di ruang operasi menjadi genting. Norman, suaminya, mengungkapkan ia sempat khawatir istri dan kedua putrinya tidak akan selamat.
135 Hari Berjuang di NICU
Annabelle dan Amira menghadapi berbagai tantangan kesehatan karena organ tubuh mereka belum berkembang sempurna. Keduanya mengalami gangguan paru-paru, penyakit mata akibat prematuritas, dan masalah jantung yang serius.
Mereka membutuhkan pemantauan intensif untuk membantu pernapasan, menjaga suhu tubuh, memenuhi kebutuhan nutrisi, serta menangani komplikasi yang muncul. Total 135 hari dijalani keduanya di unit perawatan intensif neonatal (NICU).
Setelah masa perawatan panjang itu, kedua bayi diperbolehkan pulang bersama. Saat kisah ini diberitakan, Annabelle dan Amira sudah berusia sekitar 15 bulan dan tumbuh berkembang dengan baik.
Bayi Prematur Ekstrem dan Risikonya
Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mendefinisikan bayi prematur sebagai bayi yang lahir hidup sebelum usia kehamilan mencapai 37 minggu. Kelahiran sebelum 28 minggu masuk kategori prematur ekstrem.
Kehamilan kembar berisiko lebih tinggi lahir prematur dibandingkan kehamilan tunggal. Bayi kembar juga rentan mengalami gangguan pertumbuhan dan komplikasi lain selama kehamilan.
Pada kehamilan kembar yang berbagi satu plasenta, TTTS dapat terjadi ketika salah satu janin menerima terlalu sedikit darah sementara janin lainnya menerima terlalu banyak. Kondisi ini berbahaya bagi salah satu atau kedua bayi sehingga butuh pemantauan ketat tim spesialis.
Masalah Kesehatan yang Mengintai Bayi Prematur
WHO mencatat sejumlah gangguan yang lebih rentan dialami bayi prematur karena organ tubuhnya belum matang.
- Gangguan pernapasan, karena paru-paru mungkin belum menghasilkan cukup surfaktan untuk menjaga kantung udara tetap terbuka.
- Kesulitan menjaga suhu tubuh, karena cadangan lemak dan kemampuan mengatur suhu masih terbatas.
- Kesulitan menyusu, sehingga kebutuhan nutrisi sering harus dipenuhi lewat bantuan medis.
Kapan Ibu Hamil Kembar Perlu Lebih Waspada
Kisah Frances bukan berarti semua kehamilan kembar dengan TTTS berakhir dengan persalinan di usia 27 minggu. Penanganan ditentukan berdasarkan kondisi masing-masing ibu dan janin.
Ibu hamil kembar sebaiknya rutin memeriksakan kandungan sesuai jadwal yang diberikan dokter. Segera hubungi tenaga medis bila muncul keluhan seperti nyeri perut hebat, perdarahan, atau gerakan bayi yang berkurang.
Perjalanan Annabelle dan Amira menunjukkan bahwa perawatan intensif dan pemantauan kehamilan yang tepat berperan besar dalam keselamatan bayi prematur. Bagi ibu yang sedang menjalani kehamilan kembar, kontrol rutin adalah langkah paling sederhana yang bisa dilakukan.