SUMATERA SELATAN — Operasi evakuasi skala besar itu diumumkan Sekretaris Jenderal IMO Arsenio Dominguez pada Selasa (24/6). Ia menyebutkan, proses pemulangan ribuan pelaut akan dilakukan bekerja sama dengan Iran, Oman, negara pesisir lainnya, Amerika Serikat, serta industri maritim global.
Dua Rute Evakuasi dan Jaminan Keselamatan dari Semua Pihak
IMO telah mengamankan jaminan keselamatan dari seluruh pihak yang bertikai. Dua rute sementara melalui Selat Hormuz disiapkan untuk mengevakuasi kapal-kapal yang masih terdampar.
"Kami telah memeriksa secara menyeluruh kondisi untuk navigasi yang aman guna mendukung operasi ini," kata Dominguez dalam pernyataan resmi yang dikutip Al Arabiya dari AFP.
Setiap kapal akan dihubungi secara individual untuk mendapatkan instruksi lebih lanjut. IMO juga akan menerbitkan laporan harian tentang jumlah kapal yang berhasil meninggalkan wilayah tersebut dengan selamat.
Rekor Lalu Lintas Kapal Usai Kesepakatan Damai
Penutupan Selat Hormuz oleh Iran sejak 28 Februari lalu telah melumpuhkan jalur energi global. Serangan AS dan Israel yang memicu perang membuat harga minyak dunia meroket dan distribusi komoditas penting seperti pupuk terhambat.
Namun, situasi berubah drastis setelah kesepakatan damai tercapai. Data dari platform Kpler mencatat setidaknya 36 kapal komoditas melintasi Selat Hormuz pada Senin (23/6)—rekor lalu lintas tertinggi sejak konflik dimulai.
Penderitaan Ribuan Pelaut Selama Berbulan-bulan
Dominguez menyebut kesepakatan antara Negeri Para Mullah dan Negeri Paman Sam sebagai langkah penting. Ia menekankan bahwa operasi ini bukan sekadar memulihkan arus perdagangan, tetapi juga mengakhiri penderitaan ribuan pelaut yang tidak bersalah.
"Setelah berbulan-bulan mengalami kesulitan dan penderitaan bagi ribuan pelaut yang tidak bersalah, dan dampak negatif bagi seluruh dunia, saya menyambut dengan sangat puas perjanjian perdamaian yang disepakati antara Amerika Serikat dan Iran," ujar Dominguez.
Ia menambahkan, kesepakatan itu menandai langkah menuju pemulihan keamanan maritim dan mengakhiri serangan terhadap pelayaran sipil yang dinilai tidak dapat diterima.
Dampak ke Pasar Energi dan Komoditas Global
Sebelum gencatan senjata, penutupan Selat Hormuz—yang dilalui sekitar seperlima konsumsi minyak dunia—menimbulkan kekhawatiran krisis pasokan. Kenaikan harga minyak global dan terhambatnya pengiriman pupuk menjadi tekanan tambahan bagi negara-negara berkembang, termasuk Indonesia.
Dengan dibukanya kembali jalur pelayaran, IMO memproyeksikan arus distribusi energi dan komoditas akan berangsur normal dalam beberapa pekan ke depan. Operasi evakuasi 11.000 pelaut menjadi prioritas pertama sebelum lalu lintas komersial pulih sepenuhnya.