Pencarian

BI Bantah Isu Rupiah ke Rp21.000, Sebut Fundamental Ekonomi Masih Aman

Jumat, 30 Oktober 2026 • 09:05:01 WIB
BI Bantah Isu Rupiah ke Rp21.000, Sebut Fundamental Ekonomi Masih Aman
Gubernur Bank Indonesia Destry Damayanti menegaskan stabilitas rupiah masih terkendali di tengah spekulasi pelemahan kurs.

SUMATERA SELATAN — Gubernur Bank Indonesia Destry Damayanti menegaskan ketahanan rupiah masih terkendali di tengah spekulasi pelemahan kurs hingga Rp21.000 per dolar AS. Otoritas moneter menilai volatilitas terkini sebagai dinamika wajar pasar terbuka, bukan cerminan kerapuhan fundamental ekonomi.

Penegasan disampaikan Destry selepas acara Rapimnas Kadin di Jakarta, Kamis (29/10). Ia merespons kekhawatiran yang muncul dari kalangan pengusaha dan sejumlah pejabat pemerintah soal kemungkinan rupiah anjlok ke level ekstrem.

Menurut Destry, tugas utama BI adalah menjaga stabilitas rupiah. Ia membandingkan posisi Indonesia dengan negara berkembang lain yang dinilai relatif sepadan.

"Kami di Bank Indonesia kan tugas kami menjaga stabilitas rupiah, dan kalau kita lihat dari fundamental ekonomi kita, sebenarnya kita dalam kondisi yang relatif oke dibanding peer group kita. Pergerakan yang sekarang terjadi itu bagian dari fluktuasi karena ini market bebas, sangat tergantung juga dari supply-demand dan persepsi," ujar Destry.

Pasar Bebas Jadi Kunci Pergerakan Kurs

Bank Indonesia menempatkan fluktuasi kurs sebagai hasil interaksi pasokan, permintaan, dan persepsi pelaku pasar. Dalam kerangka itu, pergerakan menuju level tertentu tidak otomatis dibaca sebagai sinyal krisis.

Destry juga membeberkan data dan grafik komparatif indikator makroekonomi Indonesia. Datanya menunjukkan posisi Indonesia masih berada dalam rentang aman dibandingkan negara-negara berkembang sekelasnya.

Paparan tersebut menjadi dasar BI membantah kekhawatiran yang sebelumnya dilontarkan kalangan pengusaha. Sejumlah pejabat pemerintah juga sempat menyuarakan kekhawatiran serupa.

Sentimen Tata Kelola Pasar Modal Ikut Menekan Rupiah

Tekanan terhadap rupiah tidak berdiri sendiri. Sentimen negatif terhadap tata kelola pasar modal nasional turut membebani persepsi investor terhadap aset Indonesia.

Dalam kondisi begitu, BI memilih menempuh jalur komunikasi kebijakan. Tujuannya meredam spekulasi yang mendorong ekspektasi pelemahan kurs ke level ekstrem.

Bagi pelaku pasar, sinyal ini penting. Pergerakan rupiah ke depan akan sangat bergantung pada bagaimana supply-demand dan persepsi bergerak, bukan semata pada narasi pelemahan.

Apa Artinya bagi Investor dan Pelaku Usaha

Pernyataan Gubernur BI memberi sinyal bahwa otoritas moneter belum melihat kebutuhan respons darurat. Fokus tetap pada menjaga stabilitas, bukan mengubah arah kebijakan secara mendadak.

Investor perlu mencermati dua hal. Pertama, arah arus modal di pasar keuangan domestik. Kedua, perkembangan sentimen terhadap tata kelola pasar modal yang menjadi pemicu kekhawatiran awal.

Bagi pelaku usaha yang bergantung pada impor, pergerakan kurs tetap jadi variabel biaya yang harus diantisipasi. Namun BI menegaskan bahwa posisi fundamental ekonomi saat ini masih menopang ketahanan rupiah.

Pernyataan Destry menutup ruang tafsir bahwa pelemahan menuju Rp21.000 per dolar AS adalah keniscayaan. Volatilitas dinilai sebagai bagian dari mekanisme pasar yang bekerja wajar.

Follow halopalembang.com

Add this site to your preferred sources on Google

Add to preferred sources
Bagikan
Sumber: ekbis.sindonews.com

This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.

Berita Lainnya

Indeks

Pilihan

Indeks

Berita Terkini

Indeks